Dalam dunia fotografi kata aperture akan sangat banyak sekali digunakan, biasanya orang menyebutnya dengan “bukaan” atau ada yg mengatakan “diafragma”. Sebenarnya arti aperture adalah bukaan lensa yang akan mempengaruhi jumlah cahaya yang masuk ke sensor. Semakin besar lubang yang terbuka maka akan makin banyak jumlah cahaya yang masuk ke sensor.

Satuan yang dipakai di aperture adalah f-stop, seperti contohnya f/2,8, f/4, f/11, f/22 dan seterusnya semakin besar nilai f-stop nya maka semakin kecil lubang yang terbuka, dan semakin kecil nilai f-stopnya maka semakin besar lubang yang terbuka yang nantinya ini akan mempengaruhi besar kecilnya cahaya yang masuk melalui lensa kita.

Fungsi yang terbesar dalam pengaturan aperture ini mengarah ke hasil foto kita, dan pengaruh terhadap DOF (Depth Of Field). DOF adalah area fokus pada gambar. Aperture berbanding terbalik terhadap DOF, jika kita mengatur f-stop aperture ke angka yang kecil maka DOF tersempit yang akan kita dapatkan, dan jika mengatur f-stop ke angka yang besar maka DOF terluas yang akan kita dapatkan. Jika semakin sempit DOF yang di dapatkan maka kita akan mendapati area blum di obyek utama ini ada hubungan dengan artikel saya sebelumnya tentang bokeh. Contoh jika kita akan memfoto obyek dengan makro maka sebisa mungkin kita akan mensetting f-stop ke nilai yang lebih kecil, untuk mendapatkan area selain obyek akan terlihat blur atau bokeh.

Dengan semakin kita terus mencoba utak-atik aperture di kamara DSLR kita maka kita akan mulai terbiasa setting dengan menyesuaikan tema fotografi. Karena “practice make perfect” semakin kita menggali kemampuan kita maka kita akan menguasai bidang tesebut.